Part 6
Tttttteeeeeeeeettttttttt
Istirahat pertama, Windy dan Nina turun ke bawah untuk membeli makanan ringan. Kelas mereka yang berada di lantai dua memaksa mereka untuk turun demi mengisi perut mereka. Ketika berada di kantin, Windy dan Nina bertemu dengan Rahma.
"Windy", sapa Rahma. Nina sedang membeli makanan.
"Iya Rahma", jawab Windy. "Kamu nggak jajan?".
"Tadi udah kok", jawab Rahma. "Eh tau nggak, besok Nina sama Andra mau jalan lho", Rahma memberi informasi.
"Apa iya?" tanya Windy kaget. "Kok kamu nggak cerita sama aku Nin?" tanya Windy kepada Nina yang baru selesai jajan, kontan Nina bingung dengan pertanyaan Windy.
"Kasih tau apa to?" Nina balik bertanya.
"Kamu jalan sama Andra besok".
"Oh itu. Nanti aku cerita lengkap deh", kata Nina kepada Windy. "Rahmaaaaaaa, kamu ngapain cerita-cerita?" tanya Nina dengan muka geram.
"Yeee, nggak papa lagi, toh nanti juga banyak yang tau kok", bela Rahma.
"Ngono yo oleh", jawab Nina sambil berbalik meninggalkan kantin, menghampiri Windy yang sudah meninggalkan kantin lebih dahulu.
Rahma memandang kepergian Nina dengan senyuman puas di bibirnya. Rahma sangat senang jika sahabatnya satu itu punya calon. Maklum Nina adalah orang yang paling sulit untuk didekati, apalagi oleh cowok. Rahma salut dengan Andra yang berhasil mendekati Nina.
Waktu istirahat pertama selesai. Siswa siswi memasuki kelas masing-masing dan duduk di bangkunya sambil menunggu guru datang.
"Jadi besok kamu jalan sama dia?" tanya Windy membuka percakapan.
"Iya, kemaren dia ngajak aku. Tapi cuma makan doang kok, nggak kemana-kemana lagi", jawab Nina.
"Ya bagus deh, berarti dia udah berani melangkah".
"Kok gitu?" tanya Nina heran.
"Menurutku dia itu terlalu takut buat memulai", terang Windy.
"Bentar-bentar", kata Nina sambil membetulkan posisi duduknya. "Kok kami bisa bilang gitu Win?"
"Dulu dia pernah tanya ke aku, katanya dia masih ragu-ragu. Apalagi liat kamu yang biasa-biasa aja", jelas Windy panjang lebar.
"Kapan dia tanya Win?" tanya Nina mulai tertarik dengan pembicaraan ini.
"Udah lama sih. Pas itu juga minta nomormu", jelas Windy.
"Emmm, minta nomorku? Kayaknya udah aku kasih tau deh", kata Nina sambil mengingat-ingat.
Windy mulai bercerita tentang percakapannya dengan Andra.
:)
Matahari masih tersenyum senang di tengah langit. Memancarkan sinarnya untuk menyinari bumi. Cerah cahayanya tak kalah dengan cerahnya hati Andra yang sedang jatuh cinta. Andra baru akan pulang saat ia bertemu Windy di koridor sekolah.
Ini udah sepi kenapa Windy masih belum pulang, pikir Andra. Ia berjalan mendekati Windy yang sedang duduk sendirian.
"Windy, ngapain disini sendiri?" tanya Andra sambil duduk disamping Windy.
"Andra, kok belum pulang? Lagi nunggu jemputan kok", sahut Windy.
"Iya nih, panas banget. Jadi males pulang", kata Andra sambil memandang ke lapangan basket yang terlihat sangat panas.
Kenapa aku nggak tanyak Windy aja ya, kan dia temen sebangkunya Nina, pasti dia tau banyak soal Nina, pikir Andra.
"Eh Win, Nina itu orangnya gimana sih?" tanya Andra to the point.
"Nina?" tanya Windy kaget. "Gimana apanya?" tanyanya lagi.
"Ya semuanya tentang dia".
"Semua?" Windy kaget mendengarnya. "Jujur kalau semua aku nggak tau, soalnya aku nggak terlalu deket sama dia".
Andra kaget mendengar jawaban Windy. Dia memandang Windy meminta penjelasan lebih.
"Aku tau kamu pasti heran kenapa aku jawab gitu. Tapi jujur, sampai sekarangpun aku belum bisa deket sama dia. Dia itu orangnya emang gitu, sulit dideketin dan sifatnya cuek gitu", jelas Windy dengan mata menerawang jauh.
"Emmm gitu ya?", kata Andra sambil mengangguk-angguk. "Tapi kalau aku deketin dia gimana?"
"Kamu deketin Nina? Buat apa?"
"Yah, kayaknya aku suka deh sama dia", jawab Andra malu-malu.
"Kok kayaknya? Masih ragu? Bingung antara Nina atau Fia?" tanya Windy yang membuat Andra kaget setengah mati.
"Kalau Fia aku nggak ada perasaan apa-apa. Tapi kalau Nina, yah kamu tau lah".
"Oalah", kata Windy dengan mulut membentuk huruf O. "Ya sudah, deketin aja dia", kata Windy memberi dukungan.
"Yang bener?" tanya Andra tak percaya.
"Iya nggak papa, aku dukung kamu kok", kata Windy sambil menepuk bahu Andra memberi dukungan.
"Oke, makasih ya Win", kata Andra sambil menjabat tangan Windy erat.
"Sama-sama. Tapi inget ya, jika nanti kamu sama dia, jangan pernah sakitin dia. Soalnya ini pertama buat dia dan aku nggak mau dia sakit", kata Windy memberi nasihat.
"Siap bos!" kata Andra sambil berdiri dengan semangat 45. "Aku pulang dulu ya", pamit Andra.
"Iya, ati-ati di jalan ya".
:)
"Gitu Nin ceritanya", kata Windy mengakhiri ceritanya.
"Emmm gitu ya? Aku kira dia cuma iseng aja, ternyata realitanya gini to", kata Nina mengambil kesimpulan.
"Aku lihat dia bener suka sama kamu kok", simpul Windy.
"Udah deh, itu masalah nanti", kata Nina acuh.
"Tapi Nin...." kata Windy.
"Udah, liat aja kelanjutan cerita kami", kata Nina menenangkan.
Pelajaran kembali dimulai. Nina larut dalam pikirannya soal Andra. Nina masih belum paham dengan apa yang dia alami saat ini. Kalut yang dia rasakan.
posted from Bloggeroid