13 Januari 2013

TRUTH or DARE

Mungkin banyak yang udah tau permainan ini. Aku pertama main pas kelas 3 SMP dan sejak saat itu aku sukaaaa <3 dari permainan itu aku bisa tau apa aja yang gak orang lain tau. Secara gak langsung kamu bisa curhat juga kok, tapi pas kamu bilang itu rasanya itu.... WOW aku curhat tapi gak kayak orang curhat. Just for fun.
Tapi dalam permainan ini ada syaratnya lhoo dan ini HARUS ditaati. Permainannya gini, semua duduk melingkar dulu(kalo kotak juga bisa seh, tapi lebih baik melingkar :D) trus diundi, siapa yang mau maen duluan, kalo aku biasanya pake botol yang diputerin, jadi langsung ke orangnya. Yang ditunjuk itu milih salah satu, truth ato dare. Kalo milih truth, dia harus jawab seJUJUR-JUJURnya, kagak boleh ada yang disembunyiin. Dan yang ada disitu HARUS menjaga rahasia tersebut, kalo enggak paling dapet dosa doang kok :))) Kalo milih dare, dia harus ngelakuin apapun yang diperintahin sama yang lain, ndak boleh mengelak sedikitpun ! Its simple.
Aku selalu milih truth kalo pas maen kayak gitu. Kenapa? Aku gak tau pasti, mungkin aku gak punya sesuatu yang kuanggap penting untuk disembunyikan. Yeah, I have plain life :)))

posted from Bloggeroid

05 Desember 2012

Langit

"Kamu gak akan bisa memyentuh langit..., itu hanya lapisan udarayang membiaskan cahaya. Ketika kamu terbang tegak lurus dari permukaan bumi, kamu tak akan pernah sadar kapan kamu menembus langit. Kamu gak pernah tahu.... Langit biru itu hanya untuk matamu. Kamu hanya bisa melihat, tanpa bisa berharap merasakannya" - Biru pada Januari, Aditia Yudis

Hanya untuk dilihat
Hanya untuk dinikmati
Takkan pernah tersentuh
Takkan pernah termiliki
Dingin, jauh, fana
Namun berikan kedamaian
Layaknya kasihmu
Yang selalu kau beri
Yang selalu kau pancarkan

posted from Bloggeroid

11 Agustus 2012

kutemukan jawabannya

Harus senangkah atau sedih atau tertawa atau bahkan menangis
Hei, aku manusia masih punya perasaan untuk merasakan semua yang terjadi
Aku juga masih punya hati untuk sekedar menerimamu masuk ke rumah ini
Tapi maaf, jika kau meminta 'maaf' mungkin sulit untuk meng-'iya'-kan
Kau datang begitu saja kan tanpa permisi tanpa salam hangat, tiba-tiba kau sudah duduk manis di bangku
Kau mengisi percakapan dengan baik, membawa orang mengikuti alurmu, disudut lain aku tersenyum bahkan sedikit bangga
Kau berpamitan dengan orang di rumah tapi bukan aku
Apa itu yang tujuanmu? Apa itu yang kau cari di rumahku? Apa itu?
Enak nian hidupmu, aku saja tak habis pikir
'ini toh orang yang selalu kau banggakan? Ini toh orang yang selalu membuatmu melambung tinggi? Ini?' orang-orang menanyakannya
Kau tau? Aku jawab 'dia selalu membuatku bahagia' hmmm? aku berusaha menutup mata dan telingaku, aku percaya padamu
Apa? Sekarang apa?
Dari hal kecil pun bisa membuat orang seperti ini

posted from Bloggeroid

23 Juni 2012

pemikiran anak jaman sekarang

"nilaimu gimana?"
"aku masuk 10 besar lho"
"rata-ratamu berapa?"
"aku cuma 82,15 kok"
"enak ya, aku cuma 80,95"
"kalian hebat bisa masuk 10 besar"
berbagai pertanyaan dan jawaban yang menyenangkan keluar dari mulut-mulut remaja yang mendapatkan nilai yang memuaskan. namun disana pula ada perdebatan tentang sebuah nilai sempurna. nilai yang banyak didapat oleh mereka yang 'berusaha'. ada berbagai definisi dari berusaha disini. banyak diantaranya yang sedikit berbeda. namun perbedaan itu yang membawa hasil lebih baik.
berusaha sesuai dengan kemampuannya sendiri. hanya segelintir orang yang melakukannya dengan benar dan jujur. disini setiap orang akan menapaki tahap demi tahap untuk mencapai hasil yang memuaskan tersebut. setiap proses akan mereka jalani dengan hati-hati dan penuh ketelitian. untuk mencapai hasil yang maksimal memang membutuhkan proses yang panjang. semua berawal dari bawah, dari akar, dari nol. orang-orang inilah yang akan maju, akan memimpin. mereka berpikir proses yang baik akan menghasilkan yang memuaskan. namun perlu disadari juga bahwa di luar sana lebih banyak orang yang menginginkan hasil, bukan proses.
berusaha dengan menitikberatkan pada hasil. hasil yang maksimal yang selalu menjadi tujuan utama mereka. entah itu dengan proses yang lebih rumit atau yang lebih mudah. kebanyakan dari mereka memilih untuk menggunakan proses yang lebih mudah, lebih praktis, dan hasilnya tepat pada sasaran. jarang dari mereka yang melihat efek dari proses yang lebih mudah itu. naas sekali jika mereka tidak memikirkannya, tapi setiap tindakan mereka pasti akan ada konsekuensi, entah itu sekarang atau nanti.
apakah sesuatu harus diukur dengan nilai?
apakah sesuatu harus diukur dengan angka atau tulisan?
nilai, angka, dan tulisan dibutuhkan untuk mengukur sesuatu tersebut. entah itu baik atau buruk, yang mereka -nilai, angka, dan tulisan- paparkan adalah hasil akhir, bukan proses.
sekarang, pikirkan saja realitanya, dengan cara yang mudah seperti itu akan mendapatkan hasil yang maksimal, lalu untuk apa berusaha setiap hari jika hasilnya sama atau tidak lebih baik dari cara tersebut?
lalu untuk apa menjalani proses yang sulit dan penuh ketelitian? menghabiskan terlalu banyak waktu untuknya, lebih baik dengan cara yang lebih mudah saja. how?

16 Juni 2012

16 06 12

sesuatu yang hilang akan terlupa saat menemukan pengganti (?)
sayang, apakah kau kehilangan sesuatu?
sayang, apakah kau sudah menemukannya?
coba kau tanyakan itu padaku....
aku merasa sepi, tak bersemangat, waktu berjalan lambat....
aku ingin mencarinya....
bisakah kau bantu aku? hanya sebentar
datang dan rengkuh aku satu detik, lepaskan, dan diam
dengan begitu aku bisa menemukannya....

22.53, solo

14 Juni 2012

terlambat mengambil kesempatan

Part 8

Malam yang dingin, Nina, Rahma, Farah, dan Rio -pacar Rahma- menikmati makan malam di cafe yang biasa mereka kunjungi. Saat tengah menikmati makanan mereka, handphone Nina tiba-tiba berbunyi, ada SMS masuk. Nina mengambil handphonenya dan terdiam sejenak.
"Dari siapa Nin?" tanya Farah.
"Dari Andra", jawab Nina lesu.
"Andra siapa ay?" tanya Rio kepada Rahma.
"Temen deketnya Nina", jawab Rahma dengan sedikit penjelasan.
"Kenapa? Tumben dia SMS", caci Farah.
"Tanya besok bisa maen nggak".
"Kamu jawab apa?" tanya Rahma.
"Nggak bisa, aku ngurusin acara OSIS".
"Yah kok gitu sih", sesal Rahma. "Harusnya kamu tanya dulu mau kemana", nasihat Rahma.
"Tauk ah, penting dibales," jawab Nina asal sambil memasukkan makanan ke mulutnya.
"Serah deh, penting kamu nggak kayak kemaren lagi", kata Farah pasrah.
"I hope so", pinta Nina. Nina masih melanjutkan SMS sambil makan. Yang lain udah selesai makan, minuman Nina belum habis.
"Aku pulang dulu ya, udah disuruh pulang", pamit Rahma sambil mengambil tas.
"Aku anterin ya ay", pinta Rio.
"Nggak usah, aku bisa sendiri. Kasian kamu, besok masih sekolah kan?" kata Rahma menenangkan.
"Tapi bener kamu nggak papa? Ini udah malem lho", tanya Rio untuk kedua kalinya.
"Beneran ay nggak papa. Kamu pulang aja", pinta Rahma sopan.
"Udah sana anak kecil pulang dulu, nanti dimarahin mama", ledek Nina.
"Hahaha, udah sana cepet pulang. Cuci kaki tangan sebelum tidur ya", Farah ikut meledek.
"Sialan, aku disini kayak anak kecil!" umpat Rahma. "Aku pulang ya nak", pamit Rahma ke pada Farah dan Nina. Rio mengikuti Rahma dari belakang.
"Iya anak kecil, ati-ati yah. Rio ati-ati", jawab Nina dan Farah kompak.
"Y", sahut Rahma kesal.
"Pulang yuk Rah, udah malem nih, udah ngantuk", ajak Nina.
"Iya bentar, aku bales SMS dulu ya", pinta Farah. Lama dia diam dengan handphone di tangannya.
"Eh Nin, kamu keliatan lebih feminim deh pake baju ini", kata Farah sambil mengamati Nina.
"Haha, ini baju mamaku lho, jarang dipake, ya udah aku pake aja", jawab Nina asal, tapi emang itu yang sebenarnya.
"Tapi tetep cantik kok. Kamu tiap hari pake o kayak gini, biar banyak cowok yang deketi kamu", nasihat Farah.
"Hallah, nggak ngaruh yo. Udah ah, pulang yuk, lama-lama malah aku bisa curhat ke kamu", pinta Nina sambil berdiri.
"Bentar! Kamu mau curhat apa? Bilang dulu!" kata Farah sambil menarik Nina duduk lagi.
"Emmm aku bingung nih. Besok kan Andra ulang tahun, aku mau jadi orang pertama yang ngucapin, tapi kok aneh ya. Gimana nih?" tanya Nina.
"Terserah sih, tapi kalo aku jadi orang terakhir yang ngucapin", jawab Farah diplomatis.
"Lhoh kok gitu?" Nina keheranan.
"Dulu, mas Rizal ngucapin selamat ulang tahun ke aku itu yang terakhir. Aku tahu maksudnya biar aku gampang lupain dia dan itu berhasil", jelas Farah.
"Oh, ya ntar aku pikirin lagi deh", putus Nina.
"Ya udah, yang penting kamu jangan terlalu deh sama dia, jangan terlalu suka atau cinta ntar kasian jatuhnya sakit" Farah memberi nasihat.
"Gini aja udah sakit kok", batin Nina.
"Yuk pulang", ajak Farah.
"Yuk".

:')

"Dimana?", tanya Nina kepada Rahma via telepon selular.
"Kantin", jawab di seberang sana.
"Oke. Aku kesana", jawab Nina singkat lalu mematikan teleponnya.
Sesampainya di kantin, Farah, Rahma, dan Vania tengah menikmati sarapan mereka. Nina mengambil bangku dan duduk di dekat mereka.
"Gimana kemaren?", tanya Rahma.
"Kemaren? Kamu kemana?", tanya Vania.
"Ke ultahnya Andra", sahut Rahma.
"Biasa aja sih, nggak ada yang penting", sahut Nina sambil mencomot makanan Farah.
"Heh! Aku belum makan ya!? Laper nih", bentak Farah. Nina tak peduli dengan bentakan Farah.
"Kemaren dia jemput aku di sekolah, kemaren sore aku kesini buat ngambil contoh ijin", jelas Nina.
"Terus kamu ngucapin nggak", tanya Farah sambil makan.
"He em. Jam 10 lebih aku baru ngucapin".
"Dia bales apa?" tanya Vania yang sudah menyelesaikan sarapannya.
"Nggak tau, aku lupa. Dia bilang 'kita jalan sebagai sahabat aja ya, nggak enak nanti ada gosip'", jawab Nina asal-asalan.
"APA?", kata Vania, Rahma, dan Farah bersamaan.
"Kita jalan sebagai sahabat aja ya", ulang Nina dengan hati-hati.
"Apaan tuh, cuma kayak gitu", caci Vania.
"Lha iya, bilang aja nggak mau!" sahut Nina kesal.
"Udahlah Nin, mending jadi temen", kata Farah kalem.
"Lalu apa maksudnya dia selama ini? Apa? Give me reason!" pinta Nina.
"Setuju!" sela Rahma.

Kadang orang yang memberikan kita perhatian lebih, kita anggap suka. Kadang orang yang kita anggap biasa saja, bisa jadi dia orang yang memperhatikan kita diam-diam. Maaf jika Anda merasa tidak puas, saya hanya mengungkapkan sebagian dari cerita indah ini. Cerita ini masih berlanjut selama masih ada cinta yang menaungi kehidupan. Sepenggal cerita tersebut yang mengajarkan saya untuk sedikit peduli dengan sesuatu.

13 Juni 2012

unexpected word

bapak pulang dari rapat di tetangga sebelah rumah. ibu nonton TV acara kesukaannya, sinetron :| bapak ikut bergabung. aku nonton film membelakangi mereka.
'dari mana?' ibu
'rapat itu anaknya pak Basuki mau nikah' bapak
'anak yang mana? kan masih kecil semua' ibu
'Dhani itu lho' bapak
'HA? kan baru lulus taun ini bapak?' saking tak percayanya suaraku keras banget. bayangin aja, dia baru lulus taun ini, udah nikah!!! pikirkan !
'ya nggak papa to, apa kamu juga mau? bapak kan jadi nggak tanggungan lagi' jahat banget ya bapak ini
'calonnya orang mana?' ibu
'wonogiri' bapak
'ogah!' secepat kilat kujawab
'lho lha kenapa? kan udah punya pacar toh?' pacar? dari mana? baru sekali jalan sama cowok aja udah dikirain punya pacar, haduh :'
'ndak, ndak punya bapak' gimana mau punya bapak, calon pacar aja ndak punya eh salah udah ada ding tapi malah pergi lagi *lhah*
'nanti kalau jadi perawan tua kayak ibu mu gimana?' perawan tua? emang 27 taun belum nikah itu udah jadi perawan tua apa? hei, ini udah jaman modern brooo
'yo nggak papa perawan tua, yang penting kaya' asal jawab dan sudah berakhir perdebatan ini.

haduh...
18 tahun menikah? mikir lagi deh, 18 tahun!masih muda, kehidupan masih panjang, masih bisa lanjutin sekolah, masih bisa maen kemana-mana. lhah ini NIKAH? please, tolong! tapi ya sudahlah itu jalan yang ia pilih, dan saya tidak mau mengikutinya.

tak mau mengikutinya?
iyalah, kehidupanku masih panjang, aku masih mau kuliah, cari kerja, impianku masih banyak sebelum hidup berumahtangga. hidup dengan orang yang belum kita kenal dan harus berkomitmen apapun yang terjadi dia adalah suami kita, yang harus dilayani, tidak boleh membangkang, dan harus mengikuti kata-katanya. sulit untukku memikirkan seperti itu dan yang pasti aku tidak mau cepat-cepat menikah.

kapan mau menikah?
masih lama tuh, yang pasti kalau udah lulus kuliah, dapet kerja, dan punya mobil. ya kira-kira 27 tahun lah.

lalu, jika kamu dapet mobil umur 40 tahun gimana? kalau pun nanti kamu udah punya mobil, cowok itu akan segan deketin kamu lho.
ya bukan aku, paling enggak salah satu dari kita sih. sekarang gini lho, 10 tahun lagi pikiran orang tu udah berkembang udah beda jauh dari sekarang, mereka pasti bisa ngertilah.

jika nanti ada yang melamarmu saat umur 18 tahun gimana?
nggak papa, bersyukur malah. tapi soal diterima ato enggak itu emmm kalo udah mapan sih nggak papa, tapi kalo umurnya beda jauh aku nggak mau. mending nunggu yang lain aja, biar sama-sama siap.