14 Juni 2012

terlambat mengambil kesempatan

Part 8

Malam yang dingin, Nina, Rahma, Farah, dan Rio -pacar Rahma- menikmati makan malam di cafe yang biasa mereka kunjungi. Saat tengah menikmati makanan mereka, handphone Nina tiba-tiba berbunyi, ada SMS masuk. Nina mengambil handphonenya dan terdiam sejenak.
"Dari siapa Nin?" tanya Farah.
"Dari Andra", jawab Nina lesu.
"Andra siapa ay?" tanya Rio kepada Rahma.
"Temen deketnya Nina", jawab Rahma dengan sedikit penjelasan.
"Kenapa? Tumben dia SMS", caci Farah.
"Tanya besok bisa maen nggak".
"Kamu jawab apa?" tanya Rahma.
"Nggak bisa, aku ngurusin acara OSIS".
"Yah kok gitu sih", sesal Rahma. "Harusnya kamu tanya dulu mau kemana", nasihat Rahma.
"Tauk ah, penting dibales," jawab Nina asal sambil memasukkan makanan ke mulutnya.
"Serah deh, penting kamu nggak kayak kemaren lagi", kata Farah pasrah.
"I hope so", pinta Nina. Nina masih melanjutkan SMS sambil makan. Yang lain udah selesai makan, minuman Nina belum habis.
"Aku pulang dulu ya, udah disuruh pulang", pamit Rahma sambil mengambil tas.
"Aku anterin ya ay", pinta Rio.
"Nggak usah, aku bisa sendiri. Kasian kamu, besok masih sekolah kan?" kata Rahma menenangkan.
"Tapi bener kamu nggak papa? Ini udah malem lho", tanya Rio untuk kedua kalinya.
"Beneran ay nggak papa. Kamu pulang aja", pinta Rahma sopan.
"Udah sana anak kecil pulang dulu, nanti dimarahin mama", ledek Nina.
"Hahaha, udah sana cepet pulang. Cuci kaki tangan sebelum tidur ya", Farah ikut meledek.
"Sialan, aku disini kayak anak kecil!" umpat Rahma. "Aku pulang ya nak", pamit Rahma ke pada Farah dan Nina. Rio mengikuti Rahma dari belakang.
"Iya anak kecil, ati-ati yah. Rio ati-ati", jawab Nina dan Farah kompak.
"Y", sahut Rahma kesal.
"Pulang yuk Rah, udah malem nih, udah ngantuk", ajak Nina.
"Iya bentar, aku bales SMS dulu ya", pinta Farah. Lama dia diam dengan handphone di tangannya.
"Eh Nin, kamu keliatan lebih feminim deh pake baju ini", kata Farah sambil mengamati Nina.
"Haha, ini baju mamaku lho, jarang dipake, ya udah aku pake aja", jawab Nina asal, tapi emang itu yang sebenarnya.
"Tapi tetep cantik kok. Kamu tiap hari pake o kayak gini, biar banyak cowok yang deketi kamu", nasihat Farah.
"Hallah, nggak ngaruh yo. Udah ah, pulang yuk, lama-lama malah aku bisa curhat ke kamu", pinta Nina sambil berdiri.
"Bentar! Kamu mau curhat apa? Bilang dulu!" kata Farah sambil menarik Nina duduk lagi.
"Emmm aku bingung nih. Besok kan Andra ulang tahun, aku mau jadi orang pertama yang ngucapin, tapi kok aneh ya. Gimana nih?" tanya Nina.
"Terserah sih, tapi kalo aku jadi orang terakhir yang ngucapin", jawab Farah diplomatis.
"Lhoh kok gitu?" Nina keheranan.
"Dulu, mas Rizal ngucapin selamat ulang tahun ke aku itu yang terakhir. Aku tahu maksudnya biar aku gampang lupain dia dan itu berhasil", jelas Farah.
"Oh, ya ntar aku pikirin lagi deh", putus Nina.
"Ya udah, yang penting kamu jangan terlalu deh sama dia, jangan terlalu suka atau cinta ntar kasian jatuhnya sakit" Farah memberi nasihat.
"Gini aja udah sakit kok", batin Nina.
"Yuk pulang", ajak Farah.
"Yuk".

:')

"Dimana?", tanya Nina kepada Rahma via telepon selular.
"Kantin", jawab di seberang sana.
"Oke. Aku kesana", jawab Nina singkat lalu mematikan teleponnya.
Sesampainya di kantin, Farah, Rahma, dan Vania tengah menikmati sarapan mereka. Nina mengambil bangku dan duduk di dekat mereka.
"Gimana kemaren?", tanya Rahma.
"Kemaren? Kamu kemana?", tanya Vania.
"Ke ultahnya Andra", sahut Rahma.
"Biasa aja sih, nggak ada yang penting", sahut Nina sambil mencomot makanan Farah.
"Heh! Aku belum makan ya!? Laper nih", bentak Farah. Nina tak peduli dengan bentakan Farah.
"Kemaren dia jemput aku di sekolah, kemaren sore aku kesini buat ngambil contoh ijin", jelas Nina.
"Terus kamu ngucapin nggak", tanya Farah sambil makan.
"He em. Jam 10 lebih aku baru ngucapin".
"Dia bales apa?" tanya Vania yang sudah menyelesaikan sarapannya.
"Nggak tau, aku lupa. Dia bilang 'kita jalan sebagai sahabat aja ya, nggak enak nanti ada gosip'", jawab Nina asal-asalan.
"APA?", kata Vania, Rahma, dan Farah bersamaan.
"Kita jalan sebagai sahabat aja ya", ulang Nina dengan hati-hati.
"Apaan tuh, cuma kayak gitu", caci Vania.
"Lha iya, bilang aja nggak mau!" sahut Nina kesal.
"Udahlah Nin, mending jadi temen", kata Farah kalem.
"Lalu apa maksudnya dia selama ini? Apa? Give me reason!" pinta Nina.
"Setuju!" sela Rahma.

Kadang orang yang memberikan kita perhatian lebih, kita anggap suka. Kadang orang yang kita anggap biasa saja, bisa jadi dia orang yang memperhatikan kita diam-diam. Maaf jika Anda merasa tidak puas, saya hanya mengungkapkan sebagian dari cerita indah ini. Cerita ini masih berlanjut selama masih ada cinta yang menaungi kehidupan. Sepenggal cerita tersebut yang mengajarkan saya untuk sedikit peduli dengan sesuatu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar