"nilaimu gimana?"
"aku masuk 10 besar lho"
"rata-ratamu berapa?"
"aku cuma 82,15 kok"
"enak ya, aku cuma 80,95"
"kalian hebat bisa masuk 10 besar"
berbagai pertanyaan dan jawaban yang menyenangkan keluar dari mulut-mulut remaja yang mendapatkan nilai yang memuaskan. namun disana pula ada perdebatan tentang sebuah nilai sempurna. nilai yang banyak didapat oleh mereka yang 'berusaha'. ada berbagai definisi dari berusaha disini. banyak diantaranya yang sedikit berbeda. namun perbedaan itu yang membawa hasil lebih baik.
berusaha sesuai dengan kemampuannya sendiri. hanya segelintir orang yang melakukannya dengan benar dan jujur. disini setiap orang akan menapaki tahap demi tahap untuk mencapai hasil yang memuaskan tersebut. setiap proses akan mereka jalani dengan hati-hati dan penuh ketelitian. untuk mencapai hasil yang maksimal memang membutuhkan proses yang panjang. semua berawal dari bawah, dari akar, dari nol. orang-orang inilah yang akan maju, akan memimpin. mereka berpikir proses yang baik akan menghasilkan yang memuaskan. namun perlu disadari juga bahwa di luar sana lebih banyak orang yang menginginkan hasil, bukan proses.
berusaha dengan menitikberatkan pada hasil. hasil yang maksimal yang selalu menjadi tujuan utama mereka. entah itu dengan proses yang lebih rumit atau yang lebih mudah. kebanyakan dari mereka memilih untuk menggunakan proses yang lebih mudah, lebih praktis, dan hasilnya tepat pada sasaran. jarang dari mereka yang melihat efek dari proses yang lebih mudah itu. naas sekali jika mereka tidak memikirkannya, tapi setiap tindakan mereka pasti akan ada konsekuensi, entah itu sekarang atau nanti.
apakah sesuatu harus diukur dengan nilai?
apakah sesuatu harus diukur dengan angka atau tulisan?
nilai, angka, dan tulisan dibutuhkan untuk mengukur sesuatu tersebut. entah itu baik atau buruk, yang mereka -nilai, angka, dan tulisan- paparkan adalah hasil akhir, bukan proses.
sekarang, pikirkan saja realitanya, dengan cara yang mudah seperti itu akan mendapatkan hasil yang maksimal, lalu untuk apa berusaha setiap hari jika hasilnya sama atau tidak lebih baik dari cara tersebut?
lalu untuk apa menjalani proses yang sulit dan penuh ketelitian? menghabiskan terlalu banyak waktu untuknya, lebih baik dengan cara yang lebih mudah saja. how?
berbeda bukan berarti aneh, berbeda bukan sekedar bertolak belakang, dare to be different to reach the goals
23 Juni 2012
16 Juni 2012
16 06 12
sesuatu yang hilang akan terlupa saat menemukan pengganti (?)
sayang, apakah kau kehilangan sesuatu?
sayang, apakah kau sudah menemukannya?
coba kau tanyakan itu padaku....
aku merasa sepi, tak bersemangat, waktu berjalan lambat....
aku ingin mencarinya....
bisakah kau bantu aku? hanya sebentar
datang dan rengkuh aku satu detik, lepaskan, dan diam
dengan begitu aku bisa menemukannya....
22.53, solo
sayang, apakah kau kehilangan sesuatu?
sayang, apakah kau sudah menemukannya?
coba kau tanyakan itu padaku....
aku merasa sepi, tak bersemangat, waktu berjalan lambat....
aku ingin mencarinya....
bisakah kau bantu aku? hanya sebentar
datang dan rengkuh aku satu detik, lepaskan, dan diam
dengan begitu aku bisa menemukannya....
22.53, solo
14 Juni 2012
terlambat mengambil kesempatan
Part 8
Malam yang dingin, Nina, Rahma, Farah, dan Rio -pacar Rahma- menikmati makan malam di cafe yang biasa mereka kunjungi. Saat tengah menikmati makanan mereka, handphone Nina tiba-tiba berbunyi, ada SMS masuk. Nina mengambil handphonenya dan terdiam sejenak.
"Dari siapa Nin?" tanya Farah.
"Dari Andra", jawab Nina lesu.
"Andra siapa ay?" tanya Rio kepada Rahma.
"Temen deketnya Nina", jawab Rahma dengan sedikit penjelasan.
"Kenapa? Tumben dia SMS", caci Farah.
"Tanya besok bisa maen nggak".
"Kamu jawab apa?" tanya Rahma.
"Nggak bisa, aku ngurusin acara OSIS".
"Yah kok gitu sih", sesal Rahma. "Harusnya kamu tanya dulu mau kemana", nasihat Rahma.
"Tauk ah, penting dibales," jawab Nina asal sambil memasukkan makanan ke mulutnya.
"Serah deh, penting kamu nggak kayak kemaren lagi", kata Farah pasrah.
"I hope so", pinta Nina. Nina masih melanjutkan SMS sambil makan. Yang lain udah selesai makan, minuman Nina belum habis.
"Aku pulang dulu ya, udah disuruh pulang", pamit Rahma sambil mengambil tas.
"Aku anterin ya ay", pinta Rio.
"Nggak usah, aku bisa sendiri. Kasian kamu, besok masih sekolah kan?" kata Rahma menenangkan.
"Tapi bener kamu nggak papa? Ini udah malem lho", tanya Rio untuk kedua kalinya.
"Beneran ay nggak papa. Kamu pulang aja", pinta Rahma sopan.
"Udah sana anak kecil pulang dulu, nanti dimarahin mama", ledek Nina.
"Hahaha, udah sana cepet pulang. Cuci kaki tangan sebelum tidur ya", Farah ikut meledek.
"Sialan, aku disini kayak anak kecil!" umpat Rahma. "Aku pulang ya nak", pamit Rahma ke pada Farah dan Nina. Rio mengikuti Rahma dari belakang.
"Iya anak kecil, ati-ati yah. Rio ati-ati", jawab Nina dan Farah kompak.
"Y", sahut Rahma kesal.
"Pulang yuk Rah, udah malem nih, udah ngantuk", ajak Nina.
"Iya bentar, aku bales SMS dulu ya", pinta Farah. Lama dia diam dengan handphone di tangannya.
"Eh Nin, kamu keliatan lebih feminim deh pake baju ini", kata Farah sambil mengamati Nina.
"Haha, ini baju mamaku lho, jarang dipake, ya udah aku pake aja", jawab Nina asal, tapi emang itu yang sebenarnya.
"Tapi tetep cantik kok. Kamu tiap hari pake o kayak gini, biar banyak cowok yang deketi kamu", nasihat Farah.
"Hallah, nggak ngaruh yo. Udah ah, pulang yuk, lama-lama malah aku bisa curhat ke kamu", pinta Nina sambil berdiri.
"Bentar! Kamu mau curhat apa? Bilang dulu!" kata Farah sambil menarik Nina duduk lagi.
"Emmm aku bingung nih. Besok kan Andra ulang tahun, aku mau jadi orang pertama yang ngucapin, tapi kok aneh ya. Gimana nih?" tanya Nina.
"Terserah sih, tapi kalo aku jadi orang terakhir yang ngucapin", jawab Farah diplomatis.
"Lhoh kok gitu?" Nina keheranan.
"Dulu, mas Rizal ngucapin selamat ulang tahun ke aku itu yang terakhir. Aku tahu maksudnya biar aku gampang lupain dia dan itu berhasil", jelas Farah.
"Oh, ya ntar aku pikirin lagi deh", putus Nina.
"Ya udah, yang penting kamu jangan terlalu deh sama dia, jangan terlalu suka atau cinta ntar kasian jatuhnya sakit" Farah memberi nasihat.
"Gini aja udah sakit kok", batin Nina.
"Yuk pulang", ajak Farah.
"Yuk".
:')
"Dimana?", tanya Nina kepada Rahma via telepon selular.
"Kantin", jawab di seberang sana.
"Oke. Aku kesana", jawab Nina singkat lalu mematikan teleponnya.
Sesampainya di kantin, Farah, Rahma, dan Vania tengah menikmati sarapan mereka. Nina mengambil bangku dan duduk di dekat mereka.
"Gimana kemaren?", tanya Rahma.
"Kemaren? Kamu kemana?", tanya Vania.
"Ke ultahnya Andra", sahut Rahma.
"Biasa aja sih, nggak ada yang penting", sahut Nina sambil mencomot makanan Farah.
"Heh! Aku belum makan ya!? Laper nih", bentak Farah. Nina tak peduli dengan bentakan Farah.
"Kemaren dia jemput aku di sekolah, kemaren sore aku kesini buat ngambil contoh ijin", jelas Nina.
"Terus kamu ngucapin nggak", tanya Farah sambil makan.
"He em. Jam 10 lebih aku baru ngucapin".
"Dia bales apa?" tanya Vania yang sudah menyelesaikan sarapannya.
"Nggak tau, aku lupa. Dia bilang 'kita jalan sebagai sahabat aja ya, nggak enak nanti ada gosip'", jawab Nina asal-asalan.
"APA?", kata Vania, Rahma, dan Farah bersamaan.
"Kita jalan sebagai sahabat aja ya", ulang Nina dengan hati-hati.
"Apaan tuh, cuma kayak gitu", caci Vania.
"Lha iya, bilang aja nggak mau!" sahut Nina kesal.
"Udahlah Nin, mending jadi temen", kata Farah kalem.
"Lalu apa maksudnya dia selama ini? Apa? Give me reason!" pinta Nina.
"Setuju!" sela Rahma.
Kadang orang yang memberikan kita perhatian lebih, kita anggap suka. Kadang orang yang kita anggap biasa saja, bisa jadi dia orang yang memperhatikan kita diam-diam. Maaf jika Anda merasa tidak puas, saya hanya mengungkapkan sebagian dari cerita indah ini. Cerita ini masih berlanjut selama masih ada cinta yang menaungi kehidupan. Sepenggal cerita tersebut yang mengajarkan saya untuk sedikit peduli dengan sesuatu.
Malam yang dingin, Nina, Rahma, Farah, dan Rio -pacar Rahma- menikmati makan malam di cafe yang biasa mereka kunjungi. Saat tengah menikmati makanan mereka, handphone Nina tiba-tiba berbunyi, ada SMS masuk. Nina mengambil handphonenya dan terdiam sejenak.
"Dari siapa Nin?" tanya Farah.
"Dari Andra", jawab Nina lesu.
"Andra siapa ay?" tanya Rio kepada Rahma.
"Temen deketnya Nina", jawab Rahma dengan sedikit penjelasan.
"Kenapa? Tumben dia SMS", caci Farah.
"Tanya besok bisa maen nggak".
"Kamu jawab apa?" tanya Rahma.
"Nggak bisa, aku ngurusin acara OSIS".
"Yah kok gitu sih", sesal Rahma. "Harusnya kamu tanya dulu mau kemana", nasihat Rahma.
"Tauk ah, penting dibales," jawab Nina asal sambil memasukkan makanan ke mulutnya.
"Serah deh, penting kamu nggak kayak kemaren lagi", kata Farah pasrah.
"I hope so", pinta Nina. Nina masih melanjutkan SMS sambil makan. Yang lain udah selesai makan, minuman Nina belum habis.
"Aku pulang dulu ya, udah disuruh pulang", pamit Rahma sambil mengambil tas.
"Aku anterin ya ay", pinta Rio.
"Nggak usah, aku bisa sendiri. Kasian kamu, besok masih sekolah kan?" kata Rahma menenangkan.
"Tapi bener kamu nggak papa? Ini udah malem lho", tanya Rio untuk kedua kalinya.
"Beneran ay nggak papa. Kamu pulang aja", pinta Rahma sopan.
"Udah sana anak kecil pulang dulu, nanti dimarahin mama", ledek Nina.
"Hahaha, udah sana cepet pulang. Cuci kaki tangan sebelum tidur ya", Farah ikut meledek.
"Sialan, aku disini kayak anak kecil!" umpat Rahma. "Aku pulang ya nak", pamit Rahma ke pada Farah dan Nina. Rio mengikuti Rahma dari belakang.
"Iya anak kecil, ati-ati yah. Rio ati-ati", jawab Nina dan Farah kompak.
"Y", sahut Rahma kesal.
"Pulang yuk Rah, udah malem nih, udah ngantuk", ajak Nina.
"Iya bentar, aku bales SMS dulu ya", pinta Farah. Lama dia diam dengan handphone di tangannya.
"Eh Nin, kamu keliatan lebih feminim deh pake baju ini", kata Farah sambil mengamati Nina.
"Haha, ini baju mamaku lho, jarang dipake, ya udah aku pake aja", jawab Nina asal, tapi emang itu yang sebenarnya.
"Tapi tetep cantik kok. Kamu tiap hari pake o kayak gini, biar banyak cowok yang deketi kamu", nasihat Farah.
"Hallah, nggak ngaruh yo. Udah ah, pulang yuk, lama-lama malah aku bisa curhat ke kamu", pinta Nina sambil berdiri.
"Bentar! Kamu mau curhat apa? Bilang dulu!" kata Farah sambil menarik Nina duduk lagi.
"Emmm aku bingung nih. Besok kan Andra ulang tahun, aku mau jadi orang pertama yang ngucapin, tapi kok aneh ya. Gimana nih?" tanya Nina.
"Terserah sih, tapi kalo aku jadi orang terakhir yang ngucapin", jawab Farah diplomatis.
"Lhoh kok gitu?" Nina keheranan.
"Dulu, mas Rizal ngucapin selamat ulang tahun ke aku itu yang terakhir. Aku tahu maksudnya biar aku gampang lupain dia dan itu berhasil", jelas Farah.
"Oh, ya ntar aku pikirin lagi deh", putus Nina.
"Ya udah, yang penting kamu jangan terlalu deh sama dia, jangan terlalu suka atau cinta ntar kasian jatuhnya sakit" Farah memberi nasihat.
"Gini aja udah sakit kok", batin Nina.
"Yuk pulang", ajak Farah.
"Yuk".
:')
"Dimana?", tanya Nina kepada Rahma via telepon selular.
"Kantin", jawab di seberang sana.
"Oke. Aku kesana", jawab Nina singkat lalu mematikan teleponnya.
Sesampainya di kantin, Farah, Rahma, dan Vania tengah menikmati sarapan mereka. Nina mengambil bangku dan duduk di dekat mereka.
"Gimana kemaren?", tanya Rahma.
"Kemaren? Kamu kemana?", tanya Vania.
"Ke ultahnya Andra", sahut Rahma.
"Biasa aja sih, nggak ada yang penting", sahut Nina sambil mencomot makanan Farah.
"Heh! Aku belum makan ya!? Laper nih", bentak Farah. Nina tak peduli dengan bentakan Farah.
"Kemaren dia jemput aku di sekolah, kemaren sore aku kesini buat ngambil contoh ijin", jelas Nina.
"Terus kamu ngucapin nggak", tanya Farah sambil makan.
"He em. Jam 10 lebih aku baru ngucapin".
"Dia bales apa?" tanya Vania yang sudah menyelesaikan sarapannya.
"Nggak tau, aku lupa. Dia bilang 'kita jalan sebagai sahabat aja ya, nggak enak nanti ada gosip'", jawab Nina asal-asalan.
"APA?", kata Vania, Rahma, dan Farah bersamaan.
"Kita jalan sebagai sahabat aja ya", ulang Nina dengan hati-hati.
"Apaan tuh, cuma kayak gitu", caci Vania.
"Lha iya, bilang aja nggak mau!" sahut Nina kesal.
"Udahlah Nin, mending jadi temen", kata Farah kalem.
"Lalu apa maksudnya dia selama ini? Apa? Give me reason!" pinta Nina.
"Setuju!" sela Rahma.
Kadang orang yang memberikan kita perhatian lebih, kita anggap suka. Kadang orang yang kita anggap biasa saja, bisa jadi dia orang yang memperhatikan kita diam-diam. Maaf jika Anda merasa tidak puas, saya hanya mengungkapkan sebagian dari cerita indah ini. Cerita ini masih berlanjut selama masih ada cinta yang menaungi kehidupan. Sepenggal cerita tersebut yang mengajarkan saya untuk sedikit peduli dengan sesuatu.
13 Juni 2012
unexpected word
bapak pulang dari rapat di tetangga sebelah rumah. ibu nonton TV acara kesukaannya, sinetron :| bapak ikut bergabung. aku nonton film membelakangi mereka.
'dari mana?' ibu
'rapat itu anaknya pak Basuki mau nikah' bapak
'anak yang mana? kan masih kecil semua' ibu
'Dhani itu lho' bapak
'HA? kan baru lulus taun ini bapak?' saking tak percayanya suaraku keras banget. bayangin aja, dia baru lulus taun ini, udah nikah!!! pikirkan !
'ya nggak papa to, apa kamu juga mau? bapak kan jadi nggak tanggungan lagi' jahat banget ya bapak ini
'calonnya orang mana?' ibu
'wonogiri' bapak
'ogah!' secepat kilat kujawab
'lho lha kenapa? kan udah punya pacar toh?' pacar? dari mana? baru sekali jalan sama cowok aja udah dikirain punya pacar, haduh :'
'ndak, ndak punya bapak' gimana mau punya bapak, calon pacar aja ndak punya eh salah udah ada ding tapi malah pergi lagi *lhah*
'nanti kalau jadi perawan tua kayak ibu mu gimana?' perawan tua? emang 27 taun belum nikah itu udah jadi perawan tua apa? hei, ini udah jaman modern brooo
'yo nggak papa perawan tua, yang penting kaya' asal jawab dan sudah berakhir perdebatan ini.
haduh...
18 tahun menikah? mikir lagi deh, 18 tahun!masih muda, kehidupan masih panjang, masih bisa lanjutin sekolah, masih bisa maen kemana-mana. lhah ini NIKAH? please, tolong! tapi ya sudahlah itu jalan yang ia pilih, dan saya tidak mau mengikutinya.
tak mau mengikutinya?
iyalah, kehidupanku masih panjang, aku masih mau kuliah, cari kerja, impianku masih banyak sebelum hidup berumahtangga. hidup dengan orang yang belum kita kenal dan harus berkomitmen apapun yang terjadi dia adalah suami kita, yang harus dilayani, tidak boleh membangkang, dan harus mengikuti kata-katanya. sulit untukku memikirkan seperti itu dan yang pasti aku tidak mau cepat-cepat menikah.
kapan mau menikah?
masih lama tuh, yang pasti kalau udah lulus kuliah, dapet kerja, dan punya mobil. ya kira-kira 27 tahun lah.
lalu, jika kamu dapet mobil umur 40 tahun gimana? kalau pun nanti kamu udah punya mobil, cowok itu akan segan deketin kamu lho.
ya bukan aku, paling enggak salah satu dari kita sih. sekarang gini lho, 10 tahun lagi pikiran orang tu udah berkembang udah beda jauh dari sekarang, mereka pasti bisa ngertilah.
jika nanti ada yang melamarmu saat umur 18 tahun gimana?
nggak papa, bersyukur malah. tapi soal diterima ato enggak itu emmm kalo udah mapan sih nggak papa, tapi kalo umurnya beda jauh aku nggak mau. mending nunggu yang lain aja, biar sama-sama siap.
'dari mana?' ibu
'rapat itu anaknya pak Basuki mau nikah' bapak
'anak yang mana? kan masih kecil semua' ibu
'Dhani itu lho' bapak
'HA? kan baru lulus taun ini bapak?' saking tak percayanya suaraku keras banget. bayangin aja, dia baru lulus taun ini, udah nikah!!! pikirkan !
'ya nggak papa to, apa kamu juga mau? bapak kan jadi nggak tanggungan lagi' jahat banget ya bapak ini
'calonnya orang mana?' ibu
'wonogiri' bapak
'ogah!' secepat kilat kujawab
'lho lha kenapa? kan udah punya pacar toh?' pacar? dari mana? baru sekali jalan sama cowok aja udah dikirain punya pacar, haduh :'
'ndak, ndak punya bapak' gimana mau punya bapak, calon pacar aja ndak punya eh salah udah ada ding tapi malah pergi lagi *lhah*
'nanti kalau jadi perawan tua kayak ibu mu gimana?' perawan tua? emang 27 taun belum nikah itu udah jadi perawan tua apa? hei, ini udah jaman modern brooo
'yo nggak papa perawan tua, yang penting kaya' asal jawab dan sudah berakhir perdebatan ini.
haduh...
18 tahun menikah? mikir lagi deh, 18 tahun!masih muda, kehidupan masih panjang, masih bisa lanjutin sekolah, masih bisa maen kemana-mana. lhah ini NIKAH? please, tolong! tapi ya sudahlah itu jalan yang ia pilih, dan saya tidak mau mengikutinya.
tak mau mengikutinya?
iyalah, kehidupanku masih panjang, aku masih mau kuliah, cari kerja, impianku masih banyak sebelum hidup berumahtangga. hidup dengan orang yang belum kita kenal dan harus berkomitmen apapun yang terjadi dia adalah suami kita, yang harus dilayani, tidak boleh membangkang, dan harus mengikuti kata-katanya. sulit untukku memikirkan seperti itu dan yang pasti aku tidak mau cepat-cepat menikah.
kapan mau menikah?
masih lama tuh, yang pasti kalau udah lulus kuliah, dapet kerja, dan punya mobil. ya kira-kira 27 tahun lah.
lalu, jika kamu dapet mobil umur 40 tahun gimana? kalau pun nanti kamu udah punya mobil, cowok itu akan segan deketin kamu lho.
ya bukan aku, paling enggak salah satu dari kita sih. sekarang gini lho, 10 tahun lagi pikiran orang tu udah berkembang udah beda jauh dari sekarang, mereka pasti bisa ngertilah.
jika nanti ada yang melamarmu saat umur 18 tahun gimana?
nggak papa, bersyukur malah. tapi soal diterima ato enggak itu emmm kalo udah mapan sih nggak papa, tapi kalo umurnya beda jauh aku nggak mau. mending nunggu yang lain aja, biar sama-sama siap.
kutemukan jawabannya
Harus senangkah atau sedih atau tertawa atau bahkan menangis
Hei, aku manusia masih punya perasaan untuk merasakan semua yang terjadi
Aku juga masih punya hati untuk sekedar menerimamu masuk ke rumah ini
Tapi maaf, jika kau meminta 'maaf' mungkin sulit untuk meng-'iya'-kan
Kau datang begitu saja kan tanpa permisi tanpa salam hangat, tiba-tiba kau sudah duduk manis di bangku
Kau mengisi percakapan dengan baik, membawa orang mengikuti alurmu, disudut lain aku tersenyum bahkan sedikit bangga
Kau berpamitan dengan orang di rumah tapi bukan aku
Apa itu yang tujuanmu? Apa itu yang kau cari di rumahku? Apa itu?
Enak nian hidupmu, aku saja tak habis pikir
'ini toh orang yang selalu kau banggakan? Ini toh orang yang selalu membuatmu melambung tinggi? Ini?' orang-orang menanyakannya
Kau tau? Aku jawab 'dia selalu membuatku bahagia' hmmm? aku berusaha menutup mata dan telingaku, aku percaya padamu
Apa? Sekarang apa?
Dari hal kecil pun bisa membuat orang seperti ini
Hei, aku manusia masih punya perasaan untuk merasakan semua yang terjadi
Aku juga masih punya hati untuk sekedar menerimamu masuk ke rumah ini
Tapi maaf, jika kau meminta 'maaf' mungkin sulit untuk meng-'iya'-kan
Kau datang begitu saja kan tanpa permisi tanpa salam hangat, tiba-tiba kau sudah duduk manis di bangku
Kau mengisi percakapan dengan baik, membawa orang mengikuti alurmu, disudut lain aku tersenyum bahkan sedikit bangga
Kau berpamitan dengan orang di rumah tapi bukan aku
Apa itu yang tujuanmu? Apa itu yang kau cari di rumahku? Apa itu?
Enak nian hidupmu, aku saja tak habis pikir
'ini toh orang yang selalu kau banggakan? Ini toh orang yang selalu membuatmu melambung tinggi? Ini?' orang-orang menanyakannya
Kau tau? Aku jawab 'dia selalu membuatku bahagia' hmmm? aku berusaha menutup mata dan telingaku, aku percaya padamu
Apa? Sekarang apa?
Dari hal kecil pun bisa membuat orang seperti ini
posted from Bloggeroid
09 Juni 2012
untitle aja deh
saat nulis ini emmm aku juga bingung mau nulis apa, tapi dikit dikit aja yah, maaf kalau nanti agak nggak nyambung
hari ini tu rasanya mau nangis, marah, pengen melenyapkan diri -kalo bisa- huh! terima kasih Tuhan, aku dari kemaren belum ada yang remedi di mapel IPA . tapi sekarang apaaaaa ?? aku remidi !! dan kalian tau apa, KIMIA !! sumpah kalo bisa lulus dengan menangis aku bakal nagis di depan gurunya langsung ! beberapa jam setelah pengumuman mood ku berubah drastis , dan sangat tak mendukung . temenku yang mulai ngajak aku bicara perlahan dan rasa lapar yang menyerang , hehe kalo soal perut jangan ditanya.... sampai malam ini mood ku masih agak aneh, makan aja aku sebenernya males, tapi gara-gara lapar (lagi) jadi makan deh, dikit sih
ini malam apa yah? ummh malam minggu ? bukan, sabtu malam *khusus jomblo* haha, iyalah kalo jomblo itu malam apapun tetep sama. tetep biasa aja tanpa ada yang special #kodekenceng HAHAH
mikir nih soal kemaren pas crita-crita, ya ampun ya , nggak habis pikir kok bisa kayak gitu . aku dari dulu tu juga mikir semuanya lelucon , just for fun ! hei, aku masih punya hati maaaaaaas ! udahlah mi, lanjutkan hidupmu . kamu bisa hidup tanpa dia .
"katanya sih dulu dia penasaran sama kamu, tapi katanya ************ dia suka sama kamu . yang bener yang mana sih ? aku jadi bingung sendiri gini"
oalah, dia kayak gini cuma penasaran doang to ? kirain beneran.....
"emang kalo beneran gimana ?"
beneran ? nggak tau , aku kan pernah bilang kalo ini tu.... gimana ya aku bingung, pokoknya nggak sekarang lah . masih jauh juga planku buat seperti itu .
"lha terus mau kapan ? "
entah , aku belum bisa yo . sekarang kamu pikir aja , kalo kamu jadi aku , dia yang memulai dia juga yang mengakhiri ? how ? enak nggak rasanya ? nggak akan ada yang enak !
well, sudah cukup belum sih aku kayak gini karna dia ? toh dia juga nggak bakal tau kan ? sedih banget nggak sih , punya rasa tapi nggak bisa ngungkapinnya secara gamblang ? pengeeeeeen banget suatu saat bisa ungkapin segalanya di depan dia -walau imposible- biar plong semuanya , biar nggak ada beban disini 3
08 Juni 2012
kebetulan atau jodoh ?
Saya, Rino Umi Kharomah cewek yang sudah 17 tahun hidup di dunia ini. Cewek yang kata mereka cuek setengah mati ! Terutama soal cowok ! Tapi kalo dipikir-pikir biasa aja kok, kan masih remaja. Kecuali kalo umurku udah 25 ke atas.
Aku mau cerita soal cowok nih. Emmm iya cowok. Jangan kaget heran ato semacam aneh ya, tapi ini bener soal cowok lho. The real man!
Cowok pertama. Dulu, pertama kali aku kenal yang namanya cowok dan 'butuh' mengenal seorang cowok. Ini pas kelas 1 SMP semester akhir. Kalian pikir 'ini apaan sih, anak SMP udah kayak gini'. Yaaaa itulah kenyataannya sayang. Dia anak kelas sebelah. Inisialnya D. Dia tinggi, putih, ganteng (dari jauh), pokoknya badannya itu atletis banget ! Aku pertama liat dia tu suka, 'wah, ni anak ganteng juga yak'. Nah, aku cerita-cerita tu ma anak-anak. Aku dibantuin cari nomor HPnya dia. Pokoknya aku dikasih tau semua hal tentang dia lah. Aku mulai sms, eh dia ngerespon. Dia tanya-tanya gitulah. Akhirnya aku kasih tau aja deh. Dia ternyata juga tau aku, SEBATAS tau aja. UKK di depan mata, aku bener-bener lost contact sama dia. UKK selesai, remedi selesai, pembagian hasil. Nah ini ini, liburan udah selesai. Eh belum ding, masih dua ato tiga hari gitu. Hari itu pembagian kelas baru. Aku bilang ke temen-temen ato nggak ya :/ kayak e iya deh. 'Kalo sekelas ya jodoh, kali enggak ya udah, tapi semoga jangan sekelas deh' ' lhoh kenapa?' 'nggak tau, pokoknya nggak usah lah'. Aku dapet kelas D lagi :(. Kenapa sedih ? Ya iyalah, masa dua tahun disini mulu ! Pembagian selesai, saatnya pulaaaaang. Eh, ada sms. Dari siapa yaaa. Open. Jengjeng, dari dia! 'dapet kelas mana?' 'kelas D, kamu ?' 'aku juga kelas D' oh my God ! ya ampun ! masyaAllah ! omonganku kejadian :x bodoh banget sih aku! Terkutuklah kau Umi! Ya sudahlah, jalani aja dulu. Hari pertama masuk sih biasa aja ya, nothing. Ngatur para pengurus kelas, dia jadi bendahara :O bayar kas tiap hari sabtu. Hari sabtu, anak-anak udah pada bayar. Nah, aku belum. Pas istirahat, aku bayar. 'nih, uang kasnya, udah lunas kan?' yes, gue udah bayar. Tapi aku tadi nggak liat matanya :( . Pulang sekolah, pas udah sampai di rumah, aku sms dia 'maaf ya, tadi aku agak bentak' 'iya, nggak papa kok' hufft. Temen sekelasnya dia dulu jadi temen deketku juga, aku cerita-cerita tentang dia. Temenku itu nyuruh aku bilang ke dia kalo aku suka. Ya nanti aku bilang kok. Beberapa hari setelahnya, aku sama temen-temen yang laen maen bareng. Aku pinjem tu HPnya temenku itu, aku baca sms, eh ada smsnya dia, aku buka. Ding! Dia cerita tentang aku ke temenku ini! Duh gimana nih :"( . Beberapa hari aku mikir, sebaiknya bilang ke dia nggak ya :/ dan akhirnya aku bilang ! Walau cuma sms sih, tapi nggak papa ding. 'aku sebenernya suka sama kamu' 'oh ya ? aku nggak nyangka lho' 'tapi aku nggak maksud nembak kamu lho' 'ya udah, semoga kamu dapet yang lebih baik dari aku ya' 'aku harap juga gitu'. Selesai ! Sampai disitulah kita, menjalani satu tahun di kelas dua dengan kecanggungan.
Sudah sudah. Lupakan masa lalu, tatap masa depan :D lanjut !
Cowok kedua. Dia tetangga aku. Aku kenal dia pas kenaikan ke kelas dua. Dia kelas 1SMA. Inisialnya D (lagi). Awal kenal sih biasa aja. Malah dia yang suka bikin gara-gara sama temenku. Dari temenku merembet ke aku, ckck ki ngopo to ? ! Dari masalah kecilpun kita jadiin bahan pertengkaran *duh males banget. Kayak gini berlangsung lama lho, hampir setaunan o. Tapi kok aneh ya, dia sekarang jarang marah-marah nggak jelas lagi. Eits ini malah sms sekarang. Bingung nih :~ . Aku tanya ke temenku yang suka dibuat kesel sama dia 'kok dia sms aku ya' 'tau tu, kemaren minta nomormu' 'oalah, tak kira ada apa-apa. tiwas was-was nih' 'udahlah nggak papa lagi, santai aja' ya udah aku buat santai aja. Aku tanggepin semua leluconnya dia, kadang juga tanya 'pacarmu siapa sih?' aku bilang nggak punya, iya lah aku emang ndak punya. Masih sms terus, ketemu juga berantem terus, pokoknya seperti biasanya lah. Tiba-tiba dia sms 'rin, mau jadi pacarku?' DEG! Aku nggak berani bales, sampai besoknya aku nggak berani bales. 'kok nggak bales to?' 'aku sibuk' 'bohong ?!' 'beneran, aku ini sibuk les' aku beneran sibuk les, kan aku kelas tiga, mau ujian, tiap hari les. Aku bilang ke temenku yang juga tetangganya dia kalo kemaren dia nembak aku. Temenku kaget sih, tapi cuma dikit katanya. Dia malah bilang gini 'dia tu kemaren udah bilang ke aku kalo dia suka kamu, terus aku pinjem HPnya dia, aku buka-buka. Eh ada fotomu ! Yah, dia udah tergila-gila sama kamu kali'. Ujian selesai. Pengangguran deh :' Dia sms lagi. Duh, gimana nih. Aku harus bales gimana ???!!!! Pikir pikir pikir. 'aku nggak bisa jadi pacarmu' 'kenapa ?' 'aku belum siap' dia sms lagi dan lagi. Bahkan sampe telfon! Cuma buat tanya 'kamu mau nggak jadu pacarku' ! Aku capek dan merasa terganggu. Aku pindah! Ke rumahku yang sekarang. Heran? Ortu punya rumah dua, jadi bebas mau tinggal dimana. Selama aku disini, aku sama sekali nggak kontak dia. Nomorku ganti dia nggak aku kasih tau. Dia bahkan tanya-tanya ke adikku juga. Untung adikku udah aku kasih tau buat nggak bilang nomorku ke dia. Tapi malangnya nasibku, dia akhirnya tau :'( :'( tauk tu dari mana dia dapet. Dia mulai lagi deh sms, kadang-kadang malah telfon. Aku nggak peduli. Terserah dia mau gimana, aku emang nggak suka sama dia. Cinta kan nggak bisa dipaksain. Tepat pas ultahku kemaren aku ganti nomor, aku nggak kasih tau dia lah, biar hidupku tentram ! Beberapa hari lalu, aku dapet undangan karang taruna dari rumahku yang dulu. Kok bisa ya aku dapet, kan udah lama aku nggak disana. Emmm ya udahlah, aku berangkat aja, daripada di rumah suwung. Eh, ketemu dia lagi, hehe. Lucu juga sih lama nggak ketemu. Kangen? Nggak! Udah lupa. Dia nyamperin aku. 'eeeh bentar' aku tarik dia mendekat, kayaknya aku kenal parfum ini deh, batinku. OMG ! Tulung ya !? Parfumnya sama kayak parfum cowok ketiga ! Apa-apaan sih ni. 'napa sih' 'tak apa, udah pergi sana !' 'yeeee gitu amat sih. mintak nomormu dulu dong' 'apa? ni nomor absenku 21' 'bukan! nomor HP lah!' 'buat apaan sih? nomor sepatu aja, ato nomor baju? emm ato nomor celana juga bisa kok' 'bukaaaan' duh males gilak, dia duduk di sebelahku sampai acara selesai. Selama dia duduk di sebelahku aku bisa cium bau parfumnya. Ya Allah, tolonglah hambaMu ini yang teringat dengan seseorang :'(. Dia dari tadi ngoceh nggak jelas, jadi nggak aku tanggepin. Terserah deh. Aku langsung pergi aja. Sampai sekarang mungkin dia masih suka deh, tapi mau gimana lagi, aku tu nggak suka yo. Sampai akhirnya dia mention aku di twitter. Buat apa? buat apa lagi kalo nggak tanya pertanyaan yang dari dulu tak terjawabkan.
Sebenernya aku kasihan sih sama dia, tapi aku nggak mau dia jadi terobsesi dengan semua ini. Lebih baik aku ngejauhin dia daripada dia jadi lebih parah. Puas nggak ceritanya? Kalo nggak tanya aku langsung aja. Ntar aku ceritain lengkap, selengkap-lengkapnya ! Kalo lagi mood lho ya... Lanjut !
Cowok ketiga. Temen sekelas. Kelas 2 SMA. Baru kenal taun ini aku, padahal di SMA udah setaun lebih lho. Akunya yang terlalu culun apa dianya yang nggak pernah keluar. Ampe heran aku, pertama masuk kelas 2 aku cuma kenal anak dari kelas ku dulu yo. Inisialnya D (lagilagi). Kami, kami jarehaha, memulaibukan, dia yang muai kok. Dia dulu yang deketin, ngajak maen, sms, pokoknya dia semua lah. Sebelumnya aku biasa-biasa aja lah, namanya juga temen sekelas. Eh temen-temen malah pada bilang 'kamu jadian aja sama dia, kalian tu cocok yo' cocok apanyaaaa? Nggak nggak, lupakan lah, toh kami juga biasa aja. Tapiiiii, salah ! Dia malah ngajak makan berdua. Aku sih biasa aja, mau ngapain lagi ? Jalani saja. Kaget lho pas dia beneran nyamperin ke rumah. Sampai di tempat makanpun aku masih nggak percaya. Tapi, ooooh so sweat sekali dia... kasih coklat :$ Aku bilang ke temen-temen deket aku kalo dia gini-gini. Hari itu dia ultah, dia ngajak aku sama temen-temen kelas buat makan-makan. Dia jemput aku. Jemput di sekolah gara-gara kesibukkanku. Mau nggak mau aku naik motor sendiri, kalo nggak motorku mau taroh mana ? aku ke sekolah selalu naik motor. Entah perasaanku ato emang bener ada rona kekecewaan dimatanya. Selesai. Pulang. Aku baru ngucapin jam 10an kayaknya. Aku tadinya rencana jadi orang pertama yang ngucapin, tapi nggak jadi. Kenapa ? emmm karena sehari sebelumnya aku nemuin beberapa hal yang menurutku membuatku tak bisa seperti ini terus, aku harus berhenti sekarang atau aku lanjut dengan resiko besar. 'kita jalan sebagai sahabat aja ya mi' dia bilang gitu setelah aku ngucapin. Nyesek ? No ! Sehari setelahnya iya ! Bodoh banget nggak aku ? 'IYA, udah jelas-jelas dia suka kamu nanggepinnya biasa aja' temen-temen bilang gitu. Ya sudahlah, nasi sudah menjadi bubur. Sebulan dia nggak sms *nggagas men*. Awal bulan lalu dia ngajak makan lagi. Makan ? kenapa kamu nggak bilang "nge-date" ? apa ? nge-date ? aku nggak berani mikir kayak gitu, terlalu jauh. Jauh? please ya mi, udah jelas maksudnya dia selama ini ! Itupun gara-gara kejadian di depan kelas. Coba kalo enggak, mesti nggak akan. Ya udah ayo. Sehari sebelum tes, 'aku disini mau minta maaf sama kalian semua, terutama sama umi' maksud e opo cobo? Sampun sampun. Nah tadi tadi, aku cerita-cerita sama temen sekelasku yang biasanya tempat curhat dia. WOW! Gila gila gila parah parah parah !!!!! Dari pertama dia ngajak jalan sampe yang terakhir. Dari dia cemburu gara-gara lelucon konyol. Pokoknya.... Duh duh. Dan jika sekarang ada yang tanya 'gimana hubunganmu sama dia?' aku cuma bisa jawab 'nggak ada hubungan apapun, kita temen :)' nggak percaya ? Sama ! Aku juga nggak percaya aku akan bisa bilang gitu *sediiiih*
Itu ceritaku, apa ceritamu ? :D
Aku mau cerita soal cowok nih. Emmm iya cowok. Jangan kaget heran ato semacam aneh ya, tapi ini bener soal cowok lho. The real man!
Cowok pertama. Dulu, pertama kali aku kenal yang namanya cowok dan 'butuh' mengenal seorang cowok. Ini pas kelas 1 SMP semester akhir. Kalian pikir 'ini apaan sih, anak SMP udah kayak gini'. Yaaaa itulah kenyataannya sayang. Dia anak kelas sebelah. Inisialnya D. Dia tinggi, putih, ganteng (dari jauh), pokoknya badannya itu atletis banget ! Aku pertama liat dia tu suka, 'wah, ni anak ganteng juga yak'. Nah, aku cerita-cerita tu ma anak-anak. Aku dibantuin cari nomor HPnya dia. Pokoknya aku dikasih tau semua hal tentang dia lah. Aku mulai sms, eh dia ngerespon. Dia tanya-tanya gitulah. Akhirnya aku kasih tau aja deh. Dia ternyata juga tau aku, SEBATAS tau aja. UKK di depan mata, aku bener-bener lost contact sama dia. UKK selesai, remedi selesai, pembagian hasil. Nah ini ini, liburan udah selesai. Eh belum ding, masih dua ato tiga hari gitu. Hari itu pembagian kelas baru. Aku bilang ke temen-temen ato nggak ya :/ kayak e iya deh. 'Kalo sekelas ya jodoh, kali enggak ya udah, tapi semoga jangan sekelas deh' ' lhoh kenapa?' 'nggak tau, pokoknya nggak usah lah'. Aku dapet kelas D lagi :(. Kenapa sedih ? Ya iyalah, masa dua tahun disini mulu ! Pembagian selesai, saatnya pulaaaaang. Eh, ada sms. Dari siapa yaaa. Open. Jengjeng, dari dia! 'dapet kelas mana?' 'kelas D, kamu ?' 'aku juga kelas D' oh my God ! ya ampun ! masyaAllah ! omonganku kejadian :x bodoh banget sih aku! Terkutuklah kau Umi! Ya sudahlah, jalani aja dulu. Hari pertama masuk sih biasa aja ya, nothing. Ngatur para pengurus kelas, dia jadi bendahara :O bayar kas tiap hari sabtu. Hari sabtu, anak-anak udah pada bayar. Nah, aku belum. Pas istirahat, aku bayar. 'nih, uang kasnya, udah lunas kan?' yes, gue udah bayar. Tapi aku tadi nggak liat matanya :( . Pulang sekolah, pas udah sampai di rumah, aku sms dia 'maaf ya, tadi aku agak bentak' 'iya, nggak papa kok' hufft. Temen sekelasnya dia dulu jadi temen deketku juga, aku cerita-cerita tentang dia. Temenku itu nyuruh aku bilang ke dia kalo aku suka. Ya nanti aku bilang kok. Beberapa hari setelahnya, aku sama temen-temen yang laen maen bareng. Aku pinjem tu HPnya temenku itu, aku baca sms, eh ada smsnya dia, aku buka. Ding! Dia cerita tentang aku ke temenku ini! Duh gimana nih :"( . Beberapa hari aku mikir, sebaiknya bilang ke dia nggak ya :/ dan akhirnya aku bilang ! Walau cuma sms sih, tapi nggak papa ding. 'aku sebenernya suka sama kamu' 'oh ya ? aku nggak nyangka lho' 'tapi aku nggak maksud nembak kamu lho' 'ya udah, semoga kamu dapet yang lebih baik dari aku ya' 'aku harap juga gitu'. Selesai ! Sampai disitulah kita, menjalani satu tahun di kelas dua dengan kecanggungan.
Sudah sudah. Lupakan masa lalu, tatap masa depan :D lanjut !
Cowok kedua. Dia tetangga aku. Aku kenal dia pas kenaikan ke kelas dua. Dia kelas 1SMA. Inisialnya D (lagi). Awal kenal sih biasa aja. Malah dia yang suka bikin gara-gara sama temenku. Dari temenku merembet ke aku, ckck ki ngopo to ? ! Dari masalah kecilpun kita jadiin bahan pertengkaran *duh males banget. Kayak gini berlangsung lama lho, hampir setaunan o. Tapi kok aneh ya, dia sekarang jarang marah-marah nggak jelas lagi. Eits ini malah sms sekarang. Bingung nih :~ . Aku tanya ke temenku yang suka dibuat kesel sama dia 'kok dia sms aku ya' 'tau tu, kemaren minta nomormu' 'oalah, tak kira ada apa-apa. tiwas was-was nih' 'udahlah nggak papa lagi, santai aja' ya udah aku buat santai aja. Aku tanggepin semua leluconnya dia, kadang juga tanya 'pacarmu siapa sih?' aku bilang nggak punya, iya lah aku emang ndak punya. Masih sms terus, ketemu juga berantem terus, pokoknya seperti biasanya lah. Tiba-tiba dia sms 'rin, mau jadi pacarku?' DEG! Aku nggak berani bales, sampai besoknya aku nggak berani bales. 'kok nggak bales to?' 'aku sibuk' 'bohong ?!' 'beneran, aku ini sibuk les' aku beneran sibuk les, kan aku kelas tiga, mau ujian, tiap hari les. Aku bilang ke temenku yang juga tetangganya dia kalo kemaren dia nembak aku. Temenku kaget sih, tapi cuma dikit katanya. Dia malah bilang gini 'dia tu kemaren udah bilang ke aku kalo dia suka kamu, terus aku pinjem HPnya dia, aku buka-buka. Eh ada fotomu ! Yah, dia udah tergila-gila sama kamu kali'. Ujian selesai. Pengangguran deh :' Dia sms lagi. Duh, gimana nih. Aku harus bales gimana ???!!!! Pikir pikir pikir. 'aku nggak bisa jadi pacarmu' 'kenapa ?' 'aku belum siap' dia sms lagi dan lagi. Bahkan sampe telfon! Cuma buat tanya 'kamu mau nggak jadu pacarku' ! Aku capek dan merasa terganggu. Aku pindah! Ke rumahku yang sekarang. Heran? Ortu punya rumah dua, jadi bebas mau tinggal dimana. Selama aku disini, aku sama sekali nggak kontak dia. Nomorku ganti dia nggak aku kasih tau. Dia bahkan tanya-tanya ke adikku juga. Untung adikku udah aku kasih tau buat nggak bilang nomorku ke dia. Tapi malangnya nasibku, dia akhirnya tau :'( :'( tauk tu dari mana dia dapet. Dia mulai lagi deh sms, kadang-kadang malah telfon. Aku nggak peduli. Terserah dia mau gimana, aku emang nggak suka sama dia. Cinta kan nggak bisa dipaksain. Tepat pas ultahku kemaren aku ganti nomor, aku nggak kasih tau dia lah, biar hidupku tentram ! Beberapa hari lalu, aku dapet undangan karang taruna dari rumahku yang dulu. Kok bisa ya aku dapet, kan udah lama aku nggak disana. Emmm ya udahlah, aku berangkat aja, daripada di rumah suwung. Eh, ketemu dia lagi, hehe. Lucu juga sih lama nggak ketemu. Kangen? Nggak! Udah lupa. Dia nyamperin aku. 'eeeh bentar' aku tarik dia mendekat, kayaknya aku kenal parfum ini deh, batinku. OMG ! Tulung ya !? Parfumnya sama kayak parfum cowok ketiga ! Apa-apaan sih ni. 'napa sih' 'tak apa, udah pergi sana !' 'yeeee gitu amat sih. mintak nomormu dulu dong' 'apa? ni nomor absenku 21' 'bukan! nomor HP lah!' 'buat apaan sih? nomor sepatu aja, ato nomor baju? emm ato nomor celana juga bisa kok' 'bukaaaan' duh males gilak, dia duduk di sebelahku sampai acara selesai. Selama dia duduk di sebelahku aku bisa cium bau parfumnya. Ya Allah, tolonglah hambaMu ini yang teringat dengan seseorang :'(. Dia dari tadi ngoceh nggak jelas, jadi nggak aku tanggepin. Terserah deh. Aku langsung pergi aja. Sampai sekarang mungkin dia masih suka deh, tapi mau gimana lagi, aku tu nggak suka yo. Sampai akhirnya dia mention aku di twitter. Buat apa? buat apa lagi kalo nggak tanya pertanyaan yang dari dulu tak terjawabkan.
Sebenernya aku kasihan sih sama dia, tapi aku nggak mau dia jadi terobsesi dengan semua ini. Lebih baik aku ngejauhin dia daripada dia jadi lebih parah. Puas nggak ceritanya? Kalo nggak tanya aku langsung aja. Ntar aku ceritain lengkap, selengkap-lengkapnya ! Kalo lagi mood lho ya... Lanjut !
Cowok ketiga. Temen sekelas. Kelas 2 SMA. Baru kenal taun ini aku, padahal di SMA udah setaun lebih lho. Akunya yang terlalu culun apa dianya yang nggak pernah keluar. Ampe heran aku, pertama masuk kelas 2 aku cuma kenal anak dari kelas ku dulu yo. Inisialnya D (lagilagi). Kami, kami jare
Itu ceritaku, apa ceritamu ? :D
posted from Bloggeroid
01 Juni 2012
Friday, June 1,2012
Entah mengapa pagi ini langit tertutup awan mendung. Udara kemalasan terhembus kencang. Sekolah masih tetep jalan, berjalan sangat baik, pulang pagi pula. Buka jejaring sosial juga biasa aja. Malah lebih seru dibanding biasanya
Nah, semua terjawab setelah istirahat pertama. Wali kelas masuk ke kelas. Anak-anak pada bingung pasti, nggak ada jadwal pelajarannya malah masuk kelas. Setelah bicara lama, eh ternyata ini hari terakhir kami duduk di kelas XI. Kaget banget dibilangin kayak gitu. Nggak kerasa sih setaun udah bareng-bareng. Sebelum keluar kelas, bapak wali kelas mimpin doa buat kesuksesan Ulangan Kenaikan Kelas besok pagi. Doa selesai. Anak-anak tos buat keberhasilan bersama. Baru mau ambil tas, eh pak ketua maju ke depan. Olala, mau bincang-bincang bentar. Bilang makasih, minta maaf, nyampein uneg-uneg, pokoknya semuanya deh diungkapin disini ampe minta bantuan (re: nirun) pas UKK besok. Jujur sedih banget harus pisah, tapi kami semua berdoa semoga besok kelas XII nggak akan dipisah lagi. Love you my classmates :* :* <3
Sore yang cerah. Matahari bersinar hangat di ufuk barat. Semoga sinar hangat sore di awal Juni ini akan bersambung ke hari berikutnya dan berikutnya dan selamanya.
Nah, semua terjawab setelah istirahat pertama. Wali kelas masuk ke kelas. Anak-anak pada bingung pasti, nggak ada jadwal pelajarannya malah masuk kelas. Setelah bicara lama, eh ternyata ini hari terakhir kami duduk di kelas XI. Kaget banget dibilangin kayak gitu. Nggak kerasa sih setaun udah bareng-bareng. Sebelum keluar kelas, bapak wali kelas mimpin doa buat kesuksesan Ulangan Kenaikan Kelas besok pagi. Doa selesai. Anak-anak tos buat keberhasilan bersama. Baru mau ambil tas, eh pak ketua maju ke depan. Olala, mau bincang-bincang bentar. Bilang makasih, minta maaf, nyampein uneg-uneg, pokoknya semuanya deh diungkapin disini ampe minta bantuan (re: nirun) pas UKK besok. Jujur sedih banget harus pisah, tapi kami semua berdoa semoga besok kelas XII nggak akan dipisah lagi. Love you my classmates :* :* <3
Sore yang cerah. Matahari bersinar hangat di ufuk barat. Semoga sinar hangat sore di awal Juni ini akan bersambung ke hari berikutnya dan berikutnya dan selamanya.
posted from Bloggeroid
Langganan:
Komentar (Atom)