Part 5
Sore hari yang cerah dengan sinar matahari yang menghangatkan. Nina duduk termenung di taman sekolah. Di depannya ada laptop yang ia nyalakan. Nina hanya menyalakan dan menyambungkannya ke internet melalui Wi-fi yang disediakan sekolah untuk muridnya.
Dalam diam Nina memikirkan sesuatu. Pikiran yang akhir-akhir ini terus menghantuinya. Nina juga tak tahu mengapa pikiran tersebut selalu ada di dalam otaknya. Hingga ia tak dapat tidur seperti biasanya, selalu saja lebih dari pukul 9.
Tiba-tiba seseorang mengagetkannya dari belakang. "Hayo lagi ngapain? Mikirin aku ya?" tanya orang itu.
"Eh", ternyata Andra, "sok tau deh kamu", kata Nina.
"Terus kamu ngapain disini sendirian?" tanya Andra seraya mengambil posisi duduk di dekat Nina.
"Biarin, emang nggk boleh? Daripada di rumah sendirian".
"Yeee galak amat sih. Mikirin apaan sih? Kok keliatan serius banget?"
"Nggak tau. Ada yang ganggu pikiranku," curhat Nina.
"Apa? Cerita aja, nggak papa kok".
"Nggak kok. Nggak papa, nggak usah dipikirin", elak Nina.
Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Keheningan menyergap mereka berdua. Angin berhembus kencang menemani mereka.
"Nina, besok jalan yuk", ajak Andra.
"Ehm", kaget dengan ajakan Andra. "Besok? Besok kapan?"
"Besok sabtu. Mau nggak?"
"Sabtu? Bisa kayaknya. Jam berapa?"
Dalam hati Andra bersorak. Ajakannya diterima baik oleh Nina, ia makin bersemangat untuk mengajak Nina. "Jam 7 aku jemput ya?"
"Oh, oke. Aku tunggu".
"Yap, makasih ya. Ya udah aku pergi dulu, mau les", Andra bangkit dari duduk.
"Iya. Hati-hati di jalan ya, bye".
"Bye. Kamu juga cepet pulang. Udah sore lho", perintah Andra sambil mengusap lembut kepala Nina.
"Iya iya. Bawel amat sih. Udah sana", sambil mendorong Andra. Nina tersenyum setelah ditinggalkan Andra. Bergegas ia berkemas dan pulang. Masih dengan senyum yang tersungging di bibirnya.
Nina tak sadar ada seseorang yang mengamatinya dari jauh. Orang itu juga tersenyum senang saat melihat Nina. Orang itu adalah Andra, senang sekali ajakannya disambut baik oleh orang yang disukainya.
:)
Tengah hari yang sangat panas. Siswa siswi berebut keluar kelas. Sesegera mereka pulang. Matahari sedang bersinar cerah, tanpa awan yang menghalau. Nina menuju ruang OSIS untuk mencari kesejukkan karena di ruang OSIS terdapat kipas angin yang dapat menyejukkan jiwa raga.
"Gimana kamu sama Andra?" tanya Rahma begitu Nina sampai di depan pintu OSIS.
"Emmm gimana ya", asal Nina menyahutinya.
"Halah, ayolah cerita", bujuk Rahma.
"Udalah Ma, jangan dipaksa gitu. Nanti dia juga cerita kok", kata Farah pasrah sambil melirik Nina. Nina tahu apa yang dimaksud Farah. Semua terdiam disibukkan oleh handphone mereka.
"Aku mau cerita", rajuk Nina.
"Tu kan, apa aku bilang", tebak Farah. Nina hanya tersenyum malu.
"Haha, udah cepet cerita", bujuk Rahma.
"Iya iya, santai napa bra", kata Nina, ia berhenti sejenak untuk mengambil nafas. "Aku diajak jalan sama Andra".
"Ha? Apa iya", kata mereka berdua bebarengan.
"Iya, kenapa?" tanya Nina sambil melihat mereka satu-satu.
"Ye ye, Nina mau nge-date", sorak Rahma. Farah hanya tersenyum. Tiba-tiba Nisha, Qonita, dan Nia datang.
"Siapa yang mau nge-date?" tanya Nisha.
"Waaaaaa Nina punya pacar, yes yes", sorak Nisha.
"Wah, sekarang punya pacar len", kata Qonita sambil mencubit lengan Nina.
"Cieee Nina. Jangan lupa PJnya ya", kata Nia dengan suara keras.
"Hei! Aku tu cuma diajak makan doang, nggak seperti yang kalian bilang. Ini juga, deket aja belum kok malah minta PJ, ckck", kata Nina heran.
"Belum? Berarti akan dong, haha", kata Nisha dan yang lain mengangguk tanda setuju.
"Iya lah! Kalau aku jawab enggak berarti selamanya aku nggak akan punya dong. Kalau belum yang akan punya tapi itu belum tentu dia kan?" jelas Nina panjang lebar.
"Terserah deh. Yang terpenting itu yang terbaik untuk kamu dan jangan salah pilih ngambil langkah ya", kata Farah memberi nasihat.
"Itu harus! Dan I think ini bukan saatnya", Nina melontarkan pendapatnya.
"Lalu waktu yang tepat kapan Nina?" tanya Rahma.
"Aku juga nggak tau. Not now but then", tandas Nina.
"Tapi Nin, coba deh kamu buka dikit aja hati buat dia", Qonita ikut memberi saran.
"Heem Nin, apalagi dia udah berani ngajak kamu. Itu tanda dia mau serius ke kamu", Nia menambahkan.
Nina diam mendengarkan perkataan teman-temannya. Dalam hati diapun merasakan hal serupa. "Iya deh nanti aku coba", kata Nina pasrah.
"Nanti? Kenapa nggak sekarang? Lebih cepat lebih baik sayang", sahut Farah.
:)
Pelajaran keempat dimulai. Guru yang mengajar sudah masuk ke dalam kelas. Pikiran Nina masih melayang pada percakapan kemarin di ruang OSIS. Dia masih memikirkannya hingga sekarang.
"Kamu kenapa Nin?" tanya Windy mengagetkan Nina yang sedang melamun.
"Ha? Kenapa? Sorry aku nggak denger", jawab Nina tergagap.
Sore hari yang cerah dengan sinar matahari yang menghangatkan. Nina duduk termenung di taman sekolah. Di depannya ada laptop yang ia nyalakan. Nina hanya menyalakan dan menyambungkannya ke internet melalui Wi-fi yang disediakan sekolah untuk muridnya.
Dalam diam Nina memikirkan sesuatu. Pikiran yang akhir-akhir ini terus menghantuinya. Nina juga tak tahu mengapa pikiran tersebut selalu ada di dalam otaknya. Hingga ia tak dapat tidur seperti biasanya, selalu saja lebih dari pukul 9.
Tiba-tiba seseorang mengagetkannya dari belakang. "Hayo lagi ngapain? Mikirin aku ya?" tanya orang itu.
"Eh", ternyata Andra, "sok tau deh kamu", kata Nina.
"Terus kamu ngapain disini sendirian?" tanya Andra seraya mengambil posisi duduk di dekat Nina.
"Biarin, emang nggk boleh? Daripada di rumah sendirian".
"Yeee galak amat sih. Mikirin apaan sih? Kok keliatan serius banget?"
"Nggak tau. Ada yang ganggu pikiranku," curhat Nina.
"Apa? Cerita aja, nggak papa kok".
"Nggak kok. Nggak papa, nggak usah dipikirin", elak Nina.
Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Keheningan menyergap mereka berdua. Angin berhembus kencang menemani mereka.
"Nina, besok jalan yuk", ajak Andra.
"Ehm", kaget dengan ajakan Andra. "Besok? Besok kapan?"
"Besok sabtu. Mau nggak?"
"Sabtu? Bisa kayaknya. Jam berapa?"
Dalam hati Andra bersorak. Ajakannya diterima baik oleh Nina, ia makin bersemangat untuk mengajak Nina. "Jam 7 aku jemput ya?"
"Oh, oke. Aku tunggu".
"Yap, makasih ya. Ya udah aku pergi dulu, mau les", Andra bangkit dari duduk.
"Iya. Hati-hati di jalan ya, bye".
"Bye. Kamu juga cepet pulang. Udah sore lho", perintah Andra sambil mengusap lembut kepala Nina.
"Iya iya. Bawel amat sih. Udah sana", sambil mendorong Andra. Nina tersenyum setelah ditinggalkan Andra. Bergegas ia berkemas dan pulang. Masih dengan senyum yang tersungging di bibirnya.
Nina tak sadar ada seseorang yang mengamatinya dari jauh. Orang itu juga tersenyum senang saat melihat Nina. Orang itu adalah Andra, senang sekali ajakannya disambut baik oleh orang yang disukainya.
:)
Tengah hari yang sangat panas. Siswa siswi berebut keluar kelas. Sesegera mereka pulang. Matahari sedang bersinar cerah, tanpa awan yang menghalau. Nina menuju ruang OSIS untuk mencari kesejukkan karena di ruang OSIS terdapat kipas angin yang dapat menyejukkan jiwa raga.
"Gimana kamu sama Andra?" tanya Rahma begitu Nina sampai di depan pintu OSIS.
"Emmm gimana ya", asal Nina menyahutinya.
"Halah, ayolah cerita", bujuk Rahma.
"Udalah Ma, jangan dipaksa gitu. Nanti dia juga cerita kok", kata Farah pasrah sambil melirik Nina. Nina tahu apa yang dimaksud Farah. Semua terdiam disibukkan oleh handphone mereka.
"Aku mau cerita", rajuk Nina.
"Tu kan, apa aku bilang", tebak Farah. Nina hanya tersenyum malu.
"Haha, udah cepet cerita", bujuk Rahma.
"Iya iya, santai napa bra", kata Nina, ia berhenti sejenak untuk mengambil nafas. "Aku diajak jalan sama Andra".
"Ha? Apa iya", kata mereka berdua bebarengan.
"Iya, kenapa?" tanya Nina sambil melihat mereka satu-satu.
"Ye ye, Nina mau nge-date", sorak Rahma. Farah hanya tersenyum. Tiba-tiba Nisha, Qonita, dan Nia datang.
"Siapa yang mau nge-date?" tanya Nisha.
"Waaaaaa Nina punya pacar, yes yes", sorak Nisha.
"Wah, sekarang punya pacar len", kata Qonita sambil mencubit lengan Nina.
"Cieee Nina. Jangan lupa PJnya ya", kata Nia dengan suara keras.
"Hei! Aku tu cuma diajak makan doang, nggak seperti yang kalian bilang. Ini juga, deket aja belum kok malah minta PJ, ckck", kata Nina heran.
"Belum? Berarti akan dong, haha", kata Nisha dan yang lain mengangguk tanda setuju.
"Iya lah! Kalau aku jawab enggak berarti selamanya aku nggak akan punya dong. Kalau belum yang akan punya tapi itu belum tentu dia kan?" jelas Nina panjang lebar.
"Terserah deh. Yang terpenting itu yang terbaik untuk kamu dan jangan salah pilih ngambil langkah ya", kata Farah memberi nasihat.
"Itu harus! Dan I think ini bukan saatnya", Nina melontarkan pendapatnya.
"Lalu waktu yang tepat kapan Nina?" tanya Rahma.
"Aku juga nggak tau. Not now but then", tandas Nina.
"Tapi Nin, coba deh kamu buka dikit aja hati buat dia", Qonita ikut memberi saran.
"Heem Nin, apalagi dia udah berani ngajak kamu. Itu tanda dia mau serius ke kamu", Nia menambahkan.
Nina diam mendengarkan perkataan teman-temannya. Dalam hati diapun merasakan hal serupa. "Iya deh nanti aku coba", kata Nina pasrah.
"Nanti? Kenapa nggak sekarang? Lebih cepat lebih baik sayang", sahut Farah.
:)
Pelajaran keempat dimulai. Guru yang mengajar sudah masuk ke dalam kelas. Pikiran Nina masih melayang pada percakapan kemarin di ruang OSIS. Dia masih memikirkannya hingga sekarang.
"Kamu kenapa Nin?" tanya Windy mengagetkan Nina yang sedang melamun.
"Ha? Kenapa? Sorry aku nggak denger", jawab Nina tergagap.
posted from Bloggeroid