24 Maret 2012

terlambat mengambil keputusan

Part 4

Pelajaran yang membosankan, udah siang masih saja ketemu pelajaran kayak gini, itulah perasaan Nina. Waktu menunjukkan pukul 11.00, pantas Nina mengeluh.
"Kemarin ada PR ya?" tanya Bu Rani. "Ayo dikeluarkan!" perintahnya. Bu Rani adalah guru kimia. "Ada yang sudah mengerjakan?"
"Belum, Bu. Nggak tahu caranya", kata Ahmad.
"Ya sudah. Ini temanmu ada yang sudah mengerjakan. Perhatikan! Jangan bicara sendiri. Nanti kita bahas bersama", kata Bu Rani.
Windy maju ke depan kelas untuk mengerjakan PR yang diberikan Bu Rani. Nina terpaksa duduk sendirian. Dia memainkan bolpoin untuk mengusir penat.
"Andra, duduk sini aja. Aku mau bicara bentar", pinta Titi yang duduk di belakang Nina. "Boleh kan Nin?" tanya Titi kepada Nina.
Nina berbalik menghadap Titi, mencari penjelasan atas permintaannya. "Aku cuma bicara bentar kok. Beneran?" kata Titi sambil mengangkat tangannya dan membentuk huruf V.
Andra berjalan menuju meja Nina.Dia duduk di bangku Windy. Andra langsung menghadap belakang untuk berbicara dengan Titi. Nina tak terlalu memperhatikan mereka, jadi ia menghadap ke depan untuk memperhatikan yang ditulis oleh Windy.
"Ayo sudah bicaranya. Perhatikan depan!" perintah Bu Rani.
Windy mundur kebelakang menuju bangkunya, tapi telah diduduki Andra, jadi Windy duduk di tempat lain. Semua murid kembali mengalihkan perhatiannya ke depan. Mendengarkan penjelasan Bu Rani meskipun hanya separuh kelas yang benar-benar memperhatikan.
Tanpa Nina dan Andra sadari, seseorang telah memotret mereka. Mengambil gambar mereka dari belakang, siapa lagi kalau bukan Livia. Livia duduk dua meja di belakang Nina. Anak itu memang sangat atraktive saat seperti itu.
Pelajaran berlangsung lancar. Semua siswa sibuk mencatat bahan yang sedang ditulis oleh Bu Rani.
"Eh, ada Andra. Nin, pinjem bolpoin merah ya?" pinta Kiki yang tiba-tiba berbalik menghadap meja Nina. Kiki kembali menghadap ke depan setelah mendapatkannya.
"Ini. Makasih ya Nin. Eh, nanti Tama cemburu lho", kata Kiki asal sambil menepuk bahu Tama, teman sebangkunya. Mereka duduk di depan Nina dan Windy.
Tama menoleh, "apaan sih Ki", elaknya.
"Apaan sih, nggak papa kan Tam?" tanya Nina mencari pembelaan.
"Nggak papa. Kiki tu nggak usah didengerin", kata Tama sambil kembali menghadap ke belakang.
Tanpa Nina sadari, ada yang aneh dengan Andra. Andra merasa cemburu dengan Tama. Apakah Nina menyukai Tama? tanya Andra dalam hati. Lalu aku ini dia anggap apa? batin Andra.
Nina tak dapat merasakan kejanggalan yang terjadi. Dia hanya menganggap itu hanya sebuah lelucon belaka. Nina tak pernah sedikitpun terbersit pikiran mengenai hati Andra saat ini. Karena Nina pikir Andra tidak ada perasaan apapun terhadapnya.

posted from Bloggeroid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar