Part 2
"Ciiiiiieeeeee Nina", seru Livia ketika Nina duduk di bangkunya. Dia bingung, kenapa pagi-pagi udah ribut.
"Kenapa sih? Ini masih pagi woy", balas Nina tak kalah heboh.
Bel masuk tanda pelajaran dimulai. Masih banyak siswa yang belum hadir. Maklumlah, ini sekolah masuk jam 06.30, terlalu pagi untuk siswa SMA. Apalagi di SMA Negeri 7 di salah satu kota metropolitan. Peraturan ini dibuat pemerintah untuk mengurangi kemacetan. Ada-ada saja perilaku para pejabat kita.
Siswa sudah berdatangan sebelum guru yang mengajar jam pertama datang. Tapi ada satu bangku yang belum terisi. Siapa ya, batin Nina.
"Nin, Andra belum dateng to?" suara yang mengejutkan itu dari samping kanannya. Suara milik Windy, teman sebangkunya sejak tahun ajaran dimulai.
"Ndak tau, liat aja bangkunya", dagunya menunjuk bangku Andra. "Maybe he came late", kata Nina.
"I think so, dasar telatan ya dia".
"Maklum kemaren ampe jam 12", batin Nina. Memang kemarin Nina dan Andra SMS sampai jam 12 malam.
Jam pelajaran pertama berlalu dalam keheningan. Kenapa? Karena jam pertama adalah pelajaran matematika. Apalagi gurunya juga kayak gitu.
"Wooo telat", salah satu siswa berkata.
"Nin, liat tu Andra telat", satu lagi celetuk siswa lainnya.
Nina hanya mendongak dan melihat sosok Andra sekilas. Tatapan Andra tertuju pada Nina, namun Nina kembali tertunduk dan fokus pada pelajaran. Pelajaran berjalan lancar dan tenang, hingga pergantian jam dan ternyata guru mata pelajaran selanjutnya tidak ada.
"Cieee kemarin yang mention-mention di twitter", seru salah satu murid.
"Iya, kemarin ada yang ngerayu lhoo", sambung Livia.
"Apa iya? Siapa? Andra bukan?" tanya seorang siswa.
"Kalian itu ngapain?" celetuk Andra.
"Gimana Nin? Udah cepet jadian ajalah, nggak usah lama-lama", kata seorang siswi.
Nina hanya menghadap siswi tersebut dan tersenyum. Entah mengapa bibir Nina hanya bisa tersenyum saat ditanya seperti itu. Coba tebak apa yang Nina rasakan? Kita lihat saja nanti.
Bel tanda usai pelajaran berdering. Pelajaran telah berakhir, siswa siswi mulai berkemas untuk pulang. Selesai berdoa Nina langsung melesat keluar kelas menuju ruang OSIS. Nina termasuk dalam salah satu anggota OSIS, dia bergabung mulai awal tahun pelajaran lalu.
"Farah, aku mau cerita", kata Nina manja kepada sahabatnya itu, Farah.
"Gimana to gimana? Sini cepet cerita. Pasti soal Andra yaaaa?" goda Farah.
"Ninaaaaa, gimana kabarnya Andra?" tanya Rahma, sahabat Nina juga.
"Ni aku baru mau cerita sama Farah".
"Lhooo aku ikuuuut", rengek Rahma.
"Sek bentar ya", kata Nina sambil berjalan menuju kamar mandi.
"Ciiiiiieeeeee Nina", seru Livia ketika Nina duduk di bangkunya. Dia bingung, kenapa pagi-pagi udah ribut.
"Kenapa sih? Ini masih pagi woy", balas Nina tak kalah heboh.
Bel masuk tanda pelajaran dimulai. Masih banyak siswa yang belum hadir. Maklumlah, ini sekolah masuk jam 06.30, terlalu pagi untuk siswa SMA. Apalagi di SMA Negeri 7 di salah satu kota metropolitan. Peraturan ini dibuat pemerintah untuk mengurangi kemacetan. Ada-ada saja perilaku para pejabat kita.
Siswa sudah berdatangan sebelum guru yang mengajar jam pertama datang. Tapi ada satu bangku yang belum terisi. Siapa ya, batin Nina.
"Nin, Andra belum dateng to?" suara yang mengejutkan itu dari samping kanannya. Suara milik Windy, teman sebangkunya sejak tahun ajaran dimulai.
"Ndak tau, liat aja bangkunya", dagunya menunjuk bangku Andra. "Maybe he came late", kata Nina.
"I think so, dasar telatan ya dia".
"Maklum kemaren ampe jam 12", batin Nina. Memang kemarin Nina dan Andra SMS sampai jam 12 malam.
Jam pelajaran pertama berlalu dalam keheningan. Kenapa? Karena jam pertama adalah pelajaran matematika. Apalagi gurunya juga kayak gitu.
"Wooo telat", salah satu siswa berkata.
"Nin, liat tu Andra telat", satu lagi celetuk siswa lainnya.
Nina hanya mendongak dan melihat sosok Andra sekilas. Tatapan Andra tertuju pada Nina, namun Nina kembali tertunduk dan fokus pada pelajaran. Pelajaran berjalan lancar dan tenang, hingga pergantian jam dan ternyata guru mata pelajaran selanjutnya tidak ada.
"Cieee kemarin yang mention-mention di twitter", seru salah satu murid.
"Iya, kemarin ada yang ngerayu lhoo", sambung Livia.
"Apa iya? Siapa? Andra bukan?" tanya seorang siswa.
"Kalian itu ngapain?" celetuk Andra.
"Gimana Nin? Udah cepet jadian ajalah, nggak usah lama-lama", kata seorang siswi.
Nina hanya menghadap siswi tersebut dan tersenyum. Entah mengapa bibir Nina hanya bisa tersenyum saat ditanya seperti itu. Coba tebak apa yang Nina rasakan? Kita lihat saja nanti.
Bel tanda usai pelajaran berdering. Pelajaran telah berakhir, siswa siswi mulai berkemas untuk pulang. Selesai berdoa Nina langsung melesat keluar kelas menuju ruang OSIS. Nina termasuk dalam salah satu anggota OSIS, dia bergabung mulai awal tahun pelajaran lalu.
"Farah, aku mau cerita", kata Nina manja kepada sahabatnya itu, Farah.
"Gimana to gimana? Sini cepet cerita. Pasti soal Andra yaaaa?" goda Farah.
"Ninaaaaa, gimana kabarnya Andra?" tanya Rahma, sahabat Nina juga.
"Ni aku baru mau cerita sama Farah".
"Lhooo aku ikuuuut", rengek Rahma.
"Sek bentar ya", kata Nina sambil berjalan menuju kamar mandi.
posted from Bloggeroid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar